Kamis, 17 Januari 2013

Makalah Psikologi Pendidikan mengenai Belajar


KAJIAN TEORI
PANDANGAN PSIKOLOGI TENTANG BELAJAR, TEORI-TEORI TENTANG BELAJAR, DAN PERBEDAAN INDIVIDUAL DALAM BELAJAR

Pandangan Psikologi tentang Belajar
1.1     Pengertian belajar
Di bawah ini ada beberapa pandangan dari para ahli psikologi tentang belajar :
A)    Gagne, dalam buku The conditions of learning (1977) menyatakan bahwa : “ Belajar terjadi apabila situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga pebuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”

B)    Morgan, dalam buku introduction to psychology (1978) mengemukakan : “ belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku terjadi sebagai suatu hasil atau latihan.”

C)    Witherington, dalam buku Educational Psychology mengemukakan : “Belajar adalah suatu perubahan dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada rekasi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.”









Dari definisi-definisi diatas, dapat dikemukakan bahwa adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian tentang belajar yaitu :
a.       Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b.      Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui pelatihan atau pengalaman ; dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematngan tidak dianggap sebagai hasil belajar ; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
c.       Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus realtif mantap ; harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Ini kita berarti harus mengenyampingkan perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman konsentrasi atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya berlangsung sementara.
d.      Tingkah laku yang mengalami perubahan  karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis seperti : perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu  masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
Good and brophy dalam bukunya educational psychology : A Realistic Aprroach mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yaiu Learning is the development of new associations as a result of experience. Beranjak dari definisi  yang dikemukakannya itu  selanjutnya ia menjelaskan bahwa belajar itu suatu proses yang benar-benar bersifat internal (a purely internal event). Belajar merupakan suatu  proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, melainkan proses itu terjadi didalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi maksudnya adalah belajar bukan tingkah laku yang nampak, tetapi terutama adalah prosesnya yang terjadi secara internal di dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan-hubungan baru (new associations). Hubungan-hubungan baru itu dapat berupa antara perangsang-perangsang, antara reaksi-reaksi, atau antara perangsang dan reaksi.






Faktor-faktor penting yang sangat erat hubungannya dengan proses belajar ialah kematangan, penyesuaian diri/adaptasi, menghafal/mengingat, pengertian, berpikikir, dan latihan. Namun kita harus dapat membedakan antara faktor-faktor tersebut dengan pengertian belajar itu sendiri.

1.2     Hakikat belajar
Hakikat Proses Belajar
Belajar meliputi tidak meliputi hanya semata-mata pelajaran, tetapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan, dan cita-cita.
Belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perubahan perilaku misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pibadi secara lebih lengkap. Tidak semua perubahan perilaku itu berarti belajar. Orang yang tangannya patah karena kecelakaan mengubah tingkah lakunya, tetapi kehilangan tangan itu sendiri bukanlah belajar. Mungkin orang itu melakukan perbuatan belajar untuk mengimbangi tangannya yang hilang itu dengan mempelajari keterampilan-keterampilan baru.
            Perubahan tidak selalu harus menghasilkan perbaikan ditinjau dari nilai-nilai sosial. Seorang penjahat mungkin sekali menjadi seorang yang sangat ahli, tetapi dari segi pandangan sosial hal itu bukanlah berarti perbaikan. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dikemukakan diatas, Hilgard dan Brower mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam perbuatan melalui aktifitas, praktek dan pengalaman.
Teori-Teori tentang Belajar
2.1       Teori Conditioning
            simple conditioning atau Teori condiguity menekankan bahwa belajar terdiri atas pembangkitan  respo dengan stimulus yang pada mulanya bersifat netral atau tidak memadai. Melalui persinggungan contiguity stimulus dengan respon, stimulus yang tidak memadai untuk menimbulkan respon tadi akhirnya mampu menimbulkan respon. Driil, praktek, pengulangan, dan kejadian-kejadian sesuai dengan teori ini.






Teori ini di bagi menjadi 3 yaitu :
1.      Teori classical conditioning (pavlov & watson)
2.      Teori conditioning (gurthie)
3.      Teori operant conditioning (skinner)
4.      Teori systematic behavior (Hull)

2.2       Teori conectionism   
            Stimulus-respon atau teori reinforcement yang dijelaskan oleh E.L . Thorndike menekankan bahwa belajar terdiri atas pembentukan ikatan atau hubungan-hubungan antara stimulus-respon yang terbentuk melalui pengulangan.
Pembentukan ikatan-ikatan  ini dipengaruhi oleh frekuensi, resensi, intensitas dan kejelasan pengalaman , perasaan dan kapasitas individu, kesamaan situasi dan menghasilkan  kepuasan atau reinforcement yang merupakan dasar dari teori conditioning ini.
Menurut Thorndike kelemahan dari teori ini adalah :
v  Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial dan  error. Trial dan Error tidak berlaku mutlak bagi manusia.
v  Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-latihan, atau ulangan-ulangan yang terus menerus.
v  Karena proses belajar berlangsung secara mekanistis, maka “pengertian” tidak dipandangnya sebagai unsur yang pokok dalam belajar.
2.3       Teori Belajar menurut Psikologi Gestalt (Field theory)
            Field theory menekankan keseluruhan dari bagian-bagian, bahwa bagian-bagian itu erat sekali berhubungan dan saling terikat satu sama lain. Jelaslah kiranya bahwa teori ini berbeda dengan pendapat teori-teori yang telah di uraikan sebelumnya. Menurut gestalt, manusia itu bukanlah hanya sekedar mahluk reaksi yang hanya berbuatatau beraksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya. Gestalt juga menekankan pada insight  yang kadang-kadang dirumuskan sebagai persepsi yang tiba-tiba terhadap hubungan-hubungan di dalam keseluruhan interaksi. Insight  ini muncul apabila seseorang telah beberapa saat mencoba




memahami suatu masalah, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara unsur-unsur yang satu dengan yang lainnya kemudian dipahami sangku pautnya dan dimengerti maknanya. Dengan demikian kesimpulan dari gestalt ialah ; pertama dalam belajar faktor pemahaman atau insight merupakan faktor yang penting. Dengan belajar dapat
mengerti/memahami hubungan antara pengetahuan dan pengalaman. Kedua dalam belajar, pribadi atau organisme memegang peranan yang paling sentral. Belajar tidak hanya dapat dilakukan secara reaktif-mekanistis belaka, tetapi dilakukan dengan sadar, bermotif dan bertujuan.

Perbedaan Individual dalam Mengajar
            Menurut Philip R.E Verson, pada hakikatnya perbedaan-perbedaan individu adalah perbedaan pada kesiapan belajar anak. Anak-anak yang masuk sekolah masing-masing memiliki tingkat kecerdasan, perhatian dan pengetahuan yang berbeda dengen kesiapan belajar yang berbeda pula. Mereka berbeda dalam potensi bahkan dalam karakternya. Masalahnya adalah pendidikan yang bagaimanakah yang patut diberikan kepada mereka agar tercapai perkembangan secara optimal bagi tiap individu sesuai dengan kapasitas dan kecenderungan mental mereka.
Salah satu cara yang patut di tempuh adalah melalui sistem kelompok. Kelompok itu harus stabil dan tahan lama  dapat dinilai secara teliti memberi sumbangan kemajuan pendidikan anak, serta dapat di terima di dalam masyarakat. Pembentukan kelompok  dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa pertimbangan, misalnya kelompok berdasarkan abilitas dan kelompok berdasarkan minat. Untuk ini diperlukan bakat, tes kecakapan, dan tes minat.
3.1       Aspek Jasmaniah Belajar
            Ada aspek fisik yang tidak boleh diabaikan seorang pengajar, antara lain penglihatan dan pendengaran. Faktor Biokimia mempengaruhi sejumlah energi yang dapat berhubungan dengan belajar, dan juga mempengaruhi kesenangan dan kepuasan yang diperoleh individu dari perbuatan mengajar. Pengaruh-pengaruh itu banyak berhubungan dengan orientasi kepribadian, apakah kita senang atau tidak senang dalam proses belajar mengajar.
Belajar bergantung pada kemampuan menyimpan tanggapan-tanggapan dan platisitas sistem syaraf pusat.penemuan-peneman akhir di laboratorium psikolohis mengemukakan bahwa abilitas mental dan kemampuan syaraf pusat untuk menyimpan tanggapan-tanggapan






merupakan fungsi enzim, kegiatan asam ribonucleic (RNA), dan makanan sel-sel otak. Ahli-ahli pengetahuan dan juga orang-orang mengenal bahwa perbedaan antara individu-individu di dalam bakat-bakat untuk belajar. Adanya perbedaan dalam tingkatan bakat  untuk belajar
ini terdapat pada anak-anak yang normal maupun pada anak-anak yang tidak normal.
Adanya perbedaan-perbedaan ini perlu dikenal dan perlu diperhatikan oleh guru agar ia tidak memaksa anak-anak belajar dengan kecepatan yang sama. Disamping itu guru juga harus memperhatikan gejala-gejala yang menunjukan perlunya pemeriksaan dokter misalnya terhadap gangguan penglihatan dan pendengaran.

3.2       Respon
Para siswa memberikan respons terhadap suatu perangsang dengan berbagai tingkat kekuatan dan tujuan yang berbeda. Kekuatan itu sebagian besar berasal dari kondisi-kondisi jasmaniah, sebagian lagi berasal dari pengamatan dan motivasi.
Seorang anak kebanyakan menganggap keberhasilan dalam bidang akademis akan menempaktkannya pada posisi yang berprestise atau kemimpinan. Anak lain mungkin memandang sukses akademis ini sebagai sikap tunduk pada figur penguasa yang ditentangnya. Mengajar yang efektif , yang secara kultural berbeda, harus meliputi keterampilan untuk melihat dunia beserta orang-orangnya dari segi pandangan individual anak.












Untuk Penerapan Prinsip-prinsip Belajar Mengajar
1)    Menetapkan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran mengacu pada perubahan perilaku yang dialami siswa setelah dilaksanakannya proses pembelajaran. Psikologi pendidikan membantu guru dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran.
2)    Penggunaan Media Pembelajaran
Pengetahuan tentang psikologi pendidikan diperlukan guru untuk merencanakan dengan tepat media pembelajaran yang akan digunakan. Misalnya penggunaan media audio-visual, sehingga dapat memberikan gambaran nyata kepada peserta didik.

3)    Penyusunan Jadwal Pelajaran
Jadwal pelajaran harus disusun berdasarkan kondisi psikologi peserta didik. Misalnya mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa seperti matematika ditempatkan di awal pelajaran, di mana kondisi siswa masih segar dan semangat dalam menerima materi pelajaran.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan psikologi pendidikan berperan dalam membantu guru untu merencanakan, mengatur dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar di sekolah.










Untuk Mempelajari Situasi Dalam Proses Pembelajaran
Psikologi pendidikan memberikan banyak kontribusi kepada guru dan calon guru untuk
meningkatkan efisiensi proses pembelajaran pada kondisi yang berbeda-beda seperti di bawah ini:
  Penciptaan Iklim Belajar yang Kondusif di Dalam Kelas
Pemahaman yang baik tentang ruang kelas yang digunakan dalam proses pembelajaran sangat membantu guru untuk menyampaikan materi kepada siswa secara efektif. Iklim pembelajaran yang kondusif harus bisa diciptakan oleh guru sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan efektif. Seorang guru harus mengetahui prinsip-prinsip yang tepat dalam proses belajar mengajar, pendekatan yang berbeda dalam mengajar untuk hasil proses belajar mengajar yang lebih baik. Psikologi pendidikan berperan dalam membantu guru agar dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga proses pembelajaran di dalam kelas bisa berjalan efektif.

    Pemilihan Strategi dan Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran didasarkan pada karakteristik perkembangan siswa. Psikologi pendidikan dapat membantu guru dalam menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami peserta didik.

    Memberikan Bimbingan Kepada Peserta Didik
Seorang guru harus memainkan peran yang berbeda di sekolah, tidak hanya dalam pelaksanaan pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai pembimbing bagi peserta didik. Bimbingan adalah jenis bantuan kepada siswa untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi.







 Pengetahuan tentang psikologi pendidikan memungkinkan guru untuk memberikan bimbingan pendidikan dan kejuruan yang diperlukan untuk siswa pada tingkat usia yang berbeda-beda.
    Mengevaluasi Hasil Pembelajaran
Guru harus melakukan dua kegiatan penting di dalam kelas seperti mengajar dan mengevaluasi. Kegiatan evaluasi membantu dalam mengukur hasil belajar siswa. Psikologi pendidikan dapat membantu guru dan calon guru dalam mengembangkan evaluasi pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis evaluasi, pemenuhan prinsip-prinsip evaluasi maupun menentukan hasil-hasil evaluasi.



























BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah di atas bumi dilengkapi dengan akal sehat serta hasrat ingin tahu, sehingga ia selalu tanya atau mempertanyakan sesuatu, mulia dari hal-hal yang sangat sederhana sampai kepada hal-hal yang sangat rumit. Oleh karena itu, mengapa manusia belajar? Jawabannya adalah karena ia ingin mengetahui atau memperoleh pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan. Jawaban lengkapnya adalah manusia belajar karena mempunyai bakat  untuk belajar, yang dipacu oleh sikap ingin tahun dan didukung oleh kemampuan untuk mengetahui.
Kemampuan manusia untuk  belajar adalah ciri yang sangat penting yang membedakan manusia dengan hewan. Kelakuan dan kemampuan melakukan sesuatu pada hewan tidak diperoleh melalui proses belajar, tetapi melalui mekanisme naluri yang berkembang dengan sendirinya, dan tidak dapat meningkat karena dibatasi oleh suatu pola yang  sudah tertentu. Belajar bagi manusia memainkan peranan penting dalam pewarisan kebudayaan berupa  kumpulan pengetahuan nilai sikap dan keterampilan kepada generasi pelanjut. Oleh karena itu, latar belakang dalam penyusunan makalah ini yakni mengetahui  apa yang dimaksud dengan belajar?, ciri-ciri belajar dan sebagainya.
Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa masalah yaitu:
1.      Apakah itu belajar, bagaimana ciri-cirinya?
2.      Tujuan dan prinsip-prinsip belajar?
3.      Perbedaan belajar secara individal?
4.      Belajar menurut pandangan beberapa aliran?
Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini, adalah :
1.      Untuk mengetahui apa itu sebenarnya belajar dan bagaimana ciri-cirinya
2.      Untuk mengetahui tujuan belajar dan perbedaannya dengan kematangan
3.      Memberikan pengetahuan yang lebih mengenai hakikat belajar itu sendiri
4.      Memberikan masukan bagi dosen dan mahasiswa sendiri
5.      Sebagai acuan dalam penyusunan makalah selanjutnya.














Belajar dapat pula diartikan secara luas dan secara sempit. Secara luas, belajar diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Secara sempit, belajar diartikan sebagai usaha penguasaan materi pelajaran.
Dilihat dari ciri-ciri belajar, yaitu a) perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar bukan perubahan tingkah laku karena proses kematangan, b) perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar bukan perubahan tingkah laku karena perubahan kondisi fisik, c) hasil belajar bersifat  relatif menetap (Tirtaraharja dalam  Abd. Haling, 2004).

1.3     Tujuan Belajar

Tujuan adalah batas cita-cita yang diinginkan dalam suatu usaha, tujuan dapat pula diartikan sesuatu yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan. Tujuan belajar berarti apa yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar.
Pada dasarnya belajar pada diri manusia, merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan serta sasaran yaitu a) tujuannya mengubah tingkah laku ke arah yang lebih berkualitas, b) sasarannya meliputi tingkah laku penalaran (kognitif), keterampilan (psikomotor), dan sikap (afektif). Sardiman (2004), mengemukakan bahwa pada dasarnya tujuan belajar terdapat tiga jenis, yaitu a) untuk mendapatkan pengetahuan, yaitu suatu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Dengan tujuan belajar ini akan lebih tepat sistem presentasi atau pemberian tugas materi pelajaran, b) untuk penanaman konsep dan keterampilan, yaitu suatu cara belajar menghadapi dan menangani objek-objek secara fisik dan psikhis. Pencapaian tujuan belajar ini cenderung dilakukan dengan cara pendemonstrasian, pengamatan, dan pelatihan, c) untuk pembentukan sikap, yaitu suatu kegiatan untuk menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi anak. Pencapaian tujuan belajar ini, dengan cara pemberian contoh perilaku yang perlu ditiru atau tidak, dengan mengarahkan anak dalam kegiatan mengamati, meniru dan mencontoh.











Bab 4
PENUTUP

            Berdasarkan uraian dan penjelasan dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar itu tidak hanya sebatas mengajar dan di ajar. Akan tetapi kita perlu juga untuk memahami hakikat belajar itu sendiri.pandangan serta Pendapat-pendapat ahli perlu kita cermati serta lebih mendalam lagi sehingga kita tau berbagai macam persepsi dan menghasilkan asumsi pendapat tersendiri serta mempunyai suatu nilai terhadap konsep-konsep yang pernah dikemukakan sebelumnya.
Psikologi seseorang memegang peranan penting terhadap kegiatan belajar secara individu. Dari perbedaan-perbedaan itu menurut saya sendiri sangat menarik untuk di kaji. Karena setiap manusia mempunyai kepribadian yang berbeda-beda dan meneliti apakah timbal balik dari kepribadian tersebut dengan proses belajar seseorang secara individual juga tentunya.
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB I             PENDAHULUAN
                        Latar Belakang
                        Rumusan Masalah
                        Tujuan
BAB 2 Kajian Teori
            1.         Pandangan psikologi tentang belajar
1.1              pengertian belajar
1.2              hakikat belajar
1.3              tujuan belajar
2.         Teori-Teori tentang Belajar
                        2.1       teori conditioning
                        2.2       teori conectionism
                        2.3       teori gestalt (field theory)
3.         perbedaan individual dalam belajar
                        3.1       aspek jasmaniah belajar
                        3.2       respon
                        3.3       faktor yang mempengaruhi belajar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar